BA – Istilah “seni” memiliki akar yang kaya dan mendalam, berasal dari bahasa Sansekerta “sani,” yang berarti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan, atau pencarian dengan rasa hormat dan kejujuran (Sugriwa, 1957). Selain itu, beberapa pihak menyatakan bahwa kata “seni” berakar dari bahasa Belanda “genie” yang berarti “jenius.” Versi lain menyebutkan bahwa seni berasal dari istilah “cilpa,” yang berarti “berwarna” atau “pewarna,” dan berkembang menjadi “cilpacastra,” yakni karya-karya artistik yang diciptakan dengan keterampilan tangan (Soedarso, 1988). Seiring perkembangannya, seni pun memiliki makna yang luas, meliputi karya seni, kemahiran, dan aktivitas manusia.
Seni sebagai karya seni adalah bentuk keindahan yang menghasilkan kesenangan, namun tidak sekadar gembira, melainkan memiliki unsur spiritual yang lebih dalam. Misalnya, lukisan-lukisan dinding gua pada zaman prasejarah yang memiliki nilai religi-magis, membangkitkan spirit manusia purba saat berburu.
Dalam konteks kemahiran, seni merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dengan tujuan yang ditentukan oleh logika atau ide tertentu, seperti yang diungkapkan oleh Aristoteles. Idris Sardi, seorang violis Indonesia, adalah contoh seniman dengan kemahiran tinggi dalam bermain musik dan improvisasi nada yang kreatif.
Sedangkan dalam pandangan Leo Tolstoy, seni sebagai kegiatan manusia adalah aktivitas sadar yang memungkinkan seseorang menyampaikan perasaannya melalui tanda-tanda eksternal, sehingga orang lain dapat merasakan emosi yang sama. Contohnya, Didi Nini Thowok, seorang koreografer tari, mampu menularkan perasaan kegembiraan dan humor melalui tariannya yang unik dan inovatif.
Melalui berbagai pengertian ini, seni terbukti menjadi aspek penting yang tidak hanya berperan sebagai hasil karya, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi manusia yang melibatkan ekspresi perasaan, ide, dan keterampilan.
Seni adalah ekspresi jiwa manusia yang tertuang dalam berbagai bentuk karya seni. Refleksi kehidupan manusia dituangkan melalui media seni dalam bentuk karya seni. Semua cabang seni (tari, musik, seni rupa, teater, dan sastra) memiliki nilai yang dapat ditransformasikan dalam kehidupan sehari hari. Atau sebaliknya. Di dalam seni terdapat simbol-simbol kehidupan yang memiliki makna mendalam tentang hakikat hidup. Tari dengan ekspresi gerak, musik dengan bunyi dan suara manusia, teater dengan ungkapan ekspresi gerak dan vokal, seni rupa dengan berbagai media visual – semuanya memiliki gaya dan aliran yang beragam – merupakan ungkapan ekspresi yang di dalamnya sarat dengan simbol. Memaknai cabang–cabang seni ini menjadi penting artinya untuk mengawali sebuah proses pengenalan tentang apa seni itu.
Pentingnya Seni dalam Kehidupan Sehari-Hari dan Pemahaman Kesenian di Era Global
Seni merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari, meskipun banyak yang tidak menyadari kehadirannya. Aktivitas memilih pakaian dan memadukannya, misalnya, adalah salah satu contoh dari rasa estetika alami yang dimiliki setiap individu. Kegiatan sederhana seperti ini menunjukkan bahwa seni sudah menjadi bagian dari ekspresi alami manusia dalam mempercantik diri dan menciptakan harmoni dalam kehidupan.
Secara teori, seni dapat dibagi menjadi dua kategori utama: seni murni dan seni terapan. Seni murni diciptakan dengan fokus pada bentuk tanpa fungsi tertentu, sementara seni terapan diciptakan dengan tujuan praktis di samping estetika. Contoh seni terapan dapat ditemukan dalam karya-karya seperti pot yang dihias untuk kegunaan dekoratif, di luar fungsi tanamannya.
Dalam pemahaman yang lebih luas, kesenian mencakup ekspresi hidup manusia yang beragam dan dapat muncul dalam bentuk visual, musik, tari, hingga teater. Para pendidik kesenian perlu memberikan pemahaman kontekstual yang mendalam tentang seni agar siswa dan masyarakat dapat melihat seni sebagai mata pelajaran penting yang membentuk sikap dan perilaku positif. Seni tidak hanya sekadar saluran hobi, melainkan juga sarana edukatif yang penting.
Di era globalisasi, perkembangan budaya global memengaruhi eksistensi kesenian lokal, menjadikannya tantangan tersendiri untuk mempertahankan substansi seni tradisional. Seni sebagai refleksi tradisi perlu dilestarikan dalam bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan “roh”-nya. Menurut Soedarso, sejarah seni sangat tua, namun pemahaman masyarakat sering kali terlalu sempit. Sementara Ki Hajar Dewantara memandang seni sebagai tindakan yang mampu menggerakkan jiwa, memberikan kita pemahaman tentang pentingnya seni dalam membentuk perasaan dan jiwa masyarakat.
Makna Seni dalam Kehidupan Sehari-Hari dan Perspektif Berbagai Tokoh
Kata “seni” memiliki makna yang luas dan berasal dari berbagai latar belakang bahasa serta budaya. Dalam bahasa Sansekerta, istilah “seni” berasal dari kata “sani” yang berarti pemujaan, pelayanan, atau donasi. Selain itu, istilah ini juga dikaitkan dengan bahasa Belanda “genie” yang berarti jenius, atau dari kata “cilpa” dalam tradisi yang lain, yang berarti “berwarna” dan berkembang menjadi “cilpacastra,” yang mencakup berbagai hasil kerajinan artistik. Dalam perkembangan selanjutnya, seni pun diartikan dalam tiga bentuk utama: sebagai karya seni (work of art), kemahiran (skill), dan kegiatan manusia (human activity).
Pemikiran tentang seni juga dijelaskan oleh beberapa tokoh ternama. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, mendefinisikan seni sebagai segala perbuatan manusia yang muncul dari perasaan hidup dan keindahan, yang dapat menggerakkan jiwa serta perasaan. Akhdiat K. Miharja, seorang budayawan, berpendapat bahwa seni adalah kegiatan rohani manusia yang mencerminkan kenyataan dalam bentuk karya, yang mampu membangkitkan pengalaman tertentu pada penerimanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebenarnya terus berinteraksi dengan seni, meski seringkali tanpa disadari. Misalnya, ketika seseorang memilih pakaian atau memadukannya dengan aksesori, secara alami ia menunjukkan rasa estetis yang melekat dalam dirinya.
Secara teori, seni terbagi menjadi dua kategori besar, yaitu seni murni dan seni terapan. Seni murni berfokus pada bentuk atau keindahan itu sendiri, sedangkan seni terapan dirancang dengan tujuan khusus, di mana keindahannya berpadu dengan fungsi tertentu.
Dengan berbagai perspektif yang ada, seni menjadi elemen penting dalam kehidupan manusia, tidak hanya sebagai media ekspresi, tetapi juga sebagai sarana refleksi jiwa dan penyalur emosi yang dapat dirasakan setiap hari dalam berbagai bentuk.
Sumber : modul Wawasan Seni (Kuswarsantyo, M.Hum., Dra. Tetty Rachmi, M.Hum.)