Is AI Safer Than Humans?

Apakah AI Lebih Aman dari Manusia?

Opini11 Dilihat

BA – Belakangan ini, topik tentang AI makin sering muncul di seminar, kampus, bahkan tongkrongan. Apalagi kalau temanya Gen Z dan teknologi. Biasanya ada dua kubu besar: yang super pro-AI dan yang super waspada. Salah satu pernyataan yang sering muncul adalah: “Bahaya kalau terlalu mengandalkan AI.” Padahal, mungkin pertanyaannya bukan soal AI lebih aman atau tidak, tapi: “Gimana cara menggunakan AI dengan literasi, preferensi, dan kesadaran diri yang matang?”

Gen Z dan AI: Ketergantungan atau Kolaborasi?

Sebagai generasi yang tumbuh bareng teknologi, Gen Z sering dituduh terlalu bergantung pada AI. Katanya Malas mikir, Terlalu instan, Nggak mau proses, Hilang critical thinking, dan berbagai stereotip lainnya. Sebagian kekhawatiran itu valid. Tapi nggak sepenuhnya benar. Karena faktanya, banyak juga Gen Z yang pakai AI sebagai sparring partner intelektual, alat untuk refine ide, tempat menguji argumen, dan cara memperluas perspektif.

Di sini bedanya tipis tapi penting:
Ketergantungan itu pasrah. Kolaborasi itu aktif.

Ketergantungan:
“AI jawab aja, gue terima.”

Kolaborasi:
“AI bantu gue mikir, tapi keputusan tetap di gue.”

Kalau kita masih punya kemampuan untuk mempertanyakan jawaban AI, berarti kita belum kehilangan nalar. Justru kita sedang melatihnya.

Apakah AI Lebih Aman dari Manusia?

Kalau bicara “aman”, AI memang punya beberapa kelebihan:

  • Nggak punya ego
  • Nggak baper
  • Nggak punya kepentingan pribadi
  • Nggak tersinggung

Dalam konteks objektivitas, itu bisa terasa lebih nyaman dibanding diskusi dengan manusia yang emosional atau bias.

Tapi AI juga punya batasan:

  • Ia tidak punya empati nyata
  • Tidak punya pengalaman hidup
  • Tidak punya intuisi moral seperti manusia
  • Bisa salah kalau datanya salah

Jadi, apakah AI lebih aman? Jawabannya: tergantung konteksnya. Untuk struktur berpikir? Bisa jadi iya. Untuk keputusan hidup yang kompleks dan penuh emosi? Manusia tetap penting.

Bahaya Sebenarnya Bukan AI, Tapi Oversimplifikasi

Yang sering terjadi di diskusi publik adalah narasi hitam-putih, salah satu contohnya:

AI akan menghancurkan manusia.

Padahal realitanya jauh lebih nuanced.

AI itu amplifier. Ia memperbesar apa yang sudah ada dalam diri kita. Kalau kita malas, AI bisa bikin makin malas. Kalau kita kritis, AI bisa bikin makin tajam. Kalau kita reflektif, AI bisa bantu kita lebih dalam. Jadi yang perlu dibangun bukan ketakutan, tapi literasi.

Cara Sehat Pakai AI di Era Sekarang

Biar nggak jatuh ke overdependence, ada beberapa prinsip sederhana:

  1. Jangan berhenti di satu jawaban. Bandingkan, cek ulang, dan tetap gunakan logika sendiri.
  2. Gunakan AI untuk memperluas, bukan menggantikan. AI bantu elaborasi, bukan menggantikan proses berpikir.
  3. Tetap latih diskusi dengan manusia. Karena real life butuh empati, kompromi, dan interaksi sosial.
  4. Pegang nilai dan preferensi pribadi. AI bisa memberi saran, tapi moral compass tetap di kita.

Bukan Soal Takut atau Fanatik

Diskusi tentang AI seharusnya bukan soal siapa yang paling benar. Bukan soal menyalahkan generasi. Bukan soal menakut-nakuti. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran. AI bukan musuh. AI juga bukan dewa penyelamat. Ia adalah teknologi. Dan seperti semua teknologi, ia akan menjadi apa pun yang kita bentuk darinya.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “AI lebih aman dari manusia atau tidak?”

Tapi: “Apakah kita sudah cukup dewasa untuk memakainya dengan bijak?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *