Politik Praktis Kita Merupakan Perpanjangan Tangan Kebudayaan Asing

Budaya, Opini6 Dilihat

BA – Membaca buku, Jurnal Metodologi, melihat rumus dan konsep terjadinya peradaban baru atas dasar historis. Dapat menguatkan pondasi identitas. Tetapi acap latah membaca budaya orang cendrung menjadi cara menghancurkan kebudayaan sendiri. Dan nilai mahal atas historis berubah menjadi nilai murah bahkan tak menguntungkan sama sekali.

Bahaya nya politik di pergunakan oleh orang-orang yang tidak cukup latar belakang sejarah yang kuat. Mereka kemudian menjadi perpanjangan tangan budaya asing yang di peruntukan untuk menghancurkan budaya sendiri.

Sederhana nya. Bagaimana orang Minang dan Orang Batak dapat membangun rumah adat nya dikampung orang tanpa mesti harus dibangun di komplek taman mini.
Bagaimana menu makanan Batak, Melayu, Minang dapat menjadi rasa Indonesia.

Aceh hanya menjadi konsumen dari promosi daerah lain. Lumbung nya di rusak oleh orang-orang yang tidak membaca sejarah, oleh birokrasi yang bukan bidangnya dalam memahami karakter, kebudayaan Aceh itu sendiri.

Civil Cultural Society (Masyarkat Fokus Kebudayaan) di kebiri tujuan membangun dan menjaga kebudayaan nya oleh pegawai jawatan yang hanya menunggu gaji bulanan untuk upaya kredit cicilan kebutuhan hidupnya.

Mudah untuk melihat kerusakan kebudayaan itu. Dapat di lihat dari eskalasi aktivitas kebudayaan, arsitektur yang sudah ada, gaya hidup yang lari dari akar, penggorengan issue yang di dramatisir.

Lalu, mengapa generasi muda itu lari dari akar kebudayaan nya. Jawabannya mereka tidak di dukung dengan baik oleh dua perangkat utama. Politik dan birokrasi. Jadi, yang menghancurkan peranan kebudayaan itu adalah politik pragmatis yang di pakai oleh mereka yang hanya bertujuan untuk melihat kegelisahan dalam waktu pendek.

Bisa juga kita melihat jumlah rumah adat yang tidak dipakai sebagai inspirasi arsitektur masa kini. Fenomena itu merupakan akar dari kehancuran yang di lakukan secara sadar.

Lalu kita menuntut generasi muda untuk percaya tahyul atas kesalahan orang tidak membaca sejarah dan tidak melihat sejarah sebagai modal untuk membangun entitas dan indentitas.

Kita bisa melihat Thailand, Malaysia, Laos, Vietnam dalam menjaga kebudayaan nya sebagai warisan dan destinasi wisata masa depan.

By. Dr. Rasyidin, M.Sn
Mengampu Matakuliah Seni Tradisi Aceh dan Dosen Prodi Seni Teater ISBI Aceh, Wakil Ketua III DKA Provinsi Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *