Surakarta, 12 September 2026 — Pertunjukan teater tubuh kontemporer TIGA yang dipentaskan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh dalam ajang Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama atau Implementation Agreement (IA) antara Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh dan SIPA.
Pertunjukan tersebut digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta, pada 12 September 2026, dengan melibatkan dosen Program Studi Seni Teater dan Program Studi Seni Karawitan, Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh.
TIGA merupakan karya Dr. Teuku Afifuddin, M.Sn. yang dikembangkan dalam bentuk teater tubuh kontemporer. Tim yang terlibat terdiri atas Dr. Teuku Afifuddin, M.Sn., Dr. Rasyidin, M.Sn., Aris Munandar, M.A., Haria Nanda Pratama, S.Kom., M.Sn., Dian Permata Sari,M.Sn serta Dr. Angga Eka Karina, S.Pd., M.Sn.
Ketua Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh, Dr. Angga Eka Karina, S.Pd., M.Sn., mengatakan keikutsertaan dosen ISBI Aceh dalam SIPA tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga merupakan pelaksanaan nyata dari kerja sama kelembagaan yang telah dibangun.
“Kerja sama antar-lembaga akan memiliki makna ketika diwujudkan dalam kegiatan yang konkret. Kehadiran TIGA di SIPA merupakan salah satu bentuk implementasi Implementation Agreement antara Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh dan SIPA dalam bidang seni pertunjukan,” ujar Angga.

Menurutnya, implementasi kerja sama semacam ini penting karena tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi diterjemahkan menjadi aktivitas akademik, artistik, dan profesional yang dapat memberikan manfaat langsung bagi dosen, program studi, jurusan, serta institusi.
“Bagi kami, IA tidak cukup hanya menjadi dokumen administratif. Kerja sama harus menghasilkan aktivitas, mobilitas, pertukaran gagasan, presentasi karya, penguatan jejaring, dan rekognisi bagi sivitas akademika. Pertunjukan TIGA menjadi salah satu bentuk konkret dari tujuan tersebut,” tambahnya.
Keterlibatan dalam SIPA juga menjadi bagian dari upaya Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh untuk memperluas jejaring dan ruang presentasi karya dosen pada forum seni pertunjukan yang memiliki jangkauan nasional dan internasional.
Melalui kerja sama tersebut, Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh berupaya mendorong dosen untuk tidak hanya menghasilkan karya di lingkungan kampus, tetapi juga mempresentasikan hasil riset dan penciptaannya kepada publik yang lebih luas.
Dalam konteks perguruan tinggi seni, karya pertunjukan menjadi bagian penting dari aktivitas tridharma. Panggung dapat menjadi ruang untuk menyajikan hasil penelitian, penciptaan, eksperimen artistik, serta pengembangan keilmuan selain melalui publikasi ilmiah.
“Tampil di ruang publik dan forum seni pertunjukan berskala internasional juga menjadi bagian dari rekognisi dosen. Hal ini penting bagi pengembangan kualitas akademik karena dosen seni tidak hanya dituntut untuk mengajar dan menulis, tetapi juga terus berkarya, melakukan eksplorasi, dan membangun jejaring profesional,” kata Angga.

TIGA Membawa Persoalan Keluarga ke Bahasa Tubuh
Pertunjukan TIGA mengangkat persoalan tentang perjuangan, pergulatan batin, tanggung jawab, dan kedewasaan laki-laki dalam kehidupan keluarga.
Karya ini berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana seorang laki-laki bersikap ketika dua orang yang sama-sama dicintainya menarik kehidupannya ke arah yang berbeda.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya dalam keluarga Muslim, laki-laki dewasa berada dalam sejumlah relasi sekaligus. Ia hadir sebagai anak, suami, ayah, dan saudara. Masing-masing posisi membawa bentuk cinta, tanggung jawab, dan tuntutan tersendiri.
TIGA kemudian memusatkan persoalannya pada konflik antara ibu dan istri.
Seorang laki-laki tidak ingin kehilangan ibunya, tetapi pada saat yang sama juga tidak ingin kehilangan istrinya. Memilih salah satu dapat menyebabkan hubungan yang lain terluka. Namun hanya berdiri di tengah tanpa mengambil sikap juga bukan sebuah penyelesaian.

Karya ini kemudian menawarkan gagasan tentang sebuah posisi ketiga, yaitu kemampuan seorang laki-laki dewasa untuk tetap menjadi anak, tetap menjadi suami, sekaligus bertanggung jawab terhadap hubungan di antara keduanya.
Pertunjukan disampaikan melalui bahasa tubuh tanpa menjadikan dialog verbal sebagai medium utama.
Melalui tiga tubuh laki-laki, TIGA menghadirkan gerak berupa tarikan, tekanan, benturan, keseimbangan, penolakan, saling menopang, kelelahan, dan usaha untuk kembali berdiri.
Bahasa geraknya dikembangkan dari memori sejumlah tradisi pertunjukan Aceh seperti Saman, Seudati, Rabbani Wahed, dan Guel. Unsur tradisi tersebut tidak ditampilkan sebagai reproduksi tari tradisional, melainkan digunakan sebagai sumber energi, ritme, repetisi, daya tahan tubuh, kekompakan, dan relasi antarpemain.
Dengan pendekatan tersebut, identitas Aceh di dalam TIGA tidak hanya hadir melalui simbol visual, tetapi juga melalui memori budaya yang tersimpan dan bekerja di dalam tubuh performer.
Memperkuat Jejaring Seni Pertunjukan
Dr. Angga Eka Karina menilai kerja sama dengan SIPA memiliki arti strategis bagi pengembangan Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh karena membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, pengalaman artistik, serta jejaring antarpelaku seni.
“Jurusan Seni Pertunjukan memiliki kepentingan untuk terus membuka ruang kolaborasi. Kampus seni tidak boleh bekerja sendiri. Hubungan dengan festival, komunitas, seniman, dan institusi seni menjadi penting agar proses pendidikan dan penciptaan di kampus tetap berhubungan dengan perkembangan dunia seni pertunjukan yang sebenarnya,” ujarnya.
Menurutnya, implementasi kerja sama melalui penampilan TIGA diharapkan dapat menjadi pintu bagi pengembangan kegiatan lainnya pada masa mendatang, baik dalam bentuk pertunjukan, pertukaran pengetahuan, diskusi, lokakarya, kolaborasi artistik, maupun bentuk kegiatan akademik lainnya.
Kerja sama tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas program studi di lingkungan Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh melalui perluasan pengalaman akademik dan artistik dosen.
“Yang terpenting, kerja sama harus memiliki dampak. Dampaknya dapat berupa peningkatan kompetensi dosen, rekognisi institusi, perluasan jejaring, pengembangan proses pembelajaran, maupun terbukanya ruang kolaborasi yang nantinya juga dapat melibatkan mahasiswa,” kata Angga.

Kehadiran TIGA pada SIPA 2026 dengan demikian tidak hanya menjadi sebuah penampilan artistik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya ISBI Aceh untuk menghubungkan pendidikan tinggi seni dengan ekosistem seni pertunjukan yang lebih luas.
Melalui implementasi kerja sama tersebut, Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh menegaskan komitmennya untuk menjadikan kolaborasi kelembagaan sebagai ruang produktif bagi pengembangan pendidikan, penelitian, penciptaan, serta rekognisi karya seni.
Tentang Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh
Jurusan Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia Aceh merupakan unit akademik yang mengembangkan pendidikan, penelitian, penciptaan, dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang seni pertunjukan, dengan menjadikan kekayaan seni budaya Aceh dan Nusantara sebagai salah satu basis pengembangan keilmuan serta penciptaan seni kontemporer.
Untuk informasi media:
Jurusan Seni Pertunjukan
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh













