Pekanbaru, (BA) – Setiap 15 Desember, para penggemar budaya pop Jepang di berbagai negara ikut merayakan Hari Otaku Sedunia. Ini jadi momen spesial buat para otaku—mereka yang super suka anime, manga, game, dan ragam kultur Jepang—buat mengekspresikan hobi, karya, sampai identitas komunitasnya.
Bukan sekadar seru-seruan: ini “panggung” budaya pop Jepang di level global
Perayaan ini bukan cuma soal hiburan. Hari Otaku Sedunia juga dianggap sebagai bentuk pengakuan bahwa kultur pop Jepang punya pengaruh besar di industri hiburan dunia. Anime, manga, dan game yang awalnya kuat di Jepang, sekarang sudah jadi fenomena internasional—dengan jutaan penggemar dari berbagai latar belakang.
Cara ngerayainnya: kreatif, rame, dan penuh “kompak komunitas”
Di banyak tempat, perayaannya hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari:
-
Cosplay karakter favorit
-
Nobar anime bareng teman komunitas
-
Pamer/unggah fan art dan karya kreatif lainnya
-
Diskusi karakter dan cerita yang lagi hype
Di media sosial, suasananya biasanya makin terasa lewat tagar seperti #WorldOtakuDay dan #HariOtakuSedunia, yang jadi tanda “kita satu server” di komunitas global.
Industri kreatif Jepang juga ikut kebagian spotlight
Hari Otaku Sedunia juga sering dilihat sebagai kesempatan buat industri kreatif Jepang untuk makin dekat dengan penggemarnya. Di sisi lain, para otaku memanfaatkan momen ini buat tukar inspirasi, nambah relasi komunitas, dan mengenalkan budaya Jepang ke orang-orang yang baru mulai tertarik.
Kenapa ini menarik?
Karena di balik kostum, fan art, dan timeline yang penuh postingan, Hari Otaku Sedunia jadi simbol bahwa hobi bisa nyambungin orang dari mana pun. Satu kesukaan yang sama—anime, manga, game—bisa bikin dunia terasa lebih dekat.












