Mitigasi Kebudayaan Dalam Menjaga Budaya Gayo

Nasional, Seni16 Dilihat

Aceh, (BA) – Bencana Alam Banjir telah meluluh lantakkan semua yang dimiliki masyarakat, mulai dari barang pakai seperti perlengkapan yang dirancang untuk penggunaan satu kali, jangka pendek, atau cepat rusak, sandang, pangan serta papan.

Benda-benda tersebut merupakan benda yang barang tentu sangat berhubungan dengan kebudayaan setempat. Baik domestik, maupun internasional.

Mari kita telusuri ke barang-barang domestik. Dari barang domestik saja sudah tentu barang tersebut akan berhubungan dengan kebudayaan leluhur. Dimana barang kepunyaan leluhur atau turun temurun merupakan benda yang tidak dapat di pisahkan dari sejarah atau kebiasaan yang ditinggalkan.

Untuk dalam situasi bencana, semua benda-benda itu tersapuh banjir, hanya di daerah yang tidak terkena maka benda-benda itu selamat. Dalam hal situasi ini peneliti menilai bahwa situasi up normal ini mesti ada upaya pembendungan atau yang menjaga bagaimana budaya itu tetap di jaga da diingatkan kepada para pendatang (donatur/relawan) untuk dapat kembali membangun benda-benda tersebut. Kenapa demikian, karena benda-benda tersebut merupakan sebuah peradaban dari satu kebudayaan.

Dalam hal ini peneliti mengambil contoh tanggap bencana di Tanoh Gayo. Ada hal yang menarik dari perjalanan penulis terjun langsung sebagai relawan bencana. Peneliti dapat menyaksikan secara langsung semua kerusakan benda-benda tersebut. Dari amatan penulis, ada dua kebudayaan yang hilang pertama kebudayaan fisik yang tampak dan kebudayaan non fisik tidak tampak. Kebudayaan fisik tampak menurut penulis yang terlihat yaitu makanan dan bangunan.

Selama penulis berada di Tanoh Gayo menjadi observer aktif. Peneliti saksikan sendiri bahwa ada kebudayaan arsitektur yang khas dari Tanoh Gayo yaitu bangunan Menasah atau Mushalla dan rumah adat Gayo Umah Pitu Ruang. Serta kuliner yang ditinggalkan dari leluhur Gayo.

Untuk arsitektur, penelti terfokus kepada bangunan Munasah di setiap wilayah kekuasaan kampung yang dikepalai oleh seorang reje. Dimana amatan peneliti pada bangunan Munasah di Gayo menggambarkan atap bersegi atau piramida dan untuk rumah nya yang menjadi fokus perhatian penulis adalah Umah Pitu Ruang rumah ada Gayo.

Menyikapi kebencanaan atau di istilahkan dengan nama mitigasi bencana, maka fokus peneliti lebih kepada melihat potensi kebudayaan lokal harus perlu di selamatkan dan di pandu oleh para ahli untuk mengarahkan para donatur untuk membantu merecovery semua fasilitas yang hilang oleh bencana dengan tetap menjaga atau membangun dengan konsep budaya setempat.

Dalam kapasitas peneliti sebagai observer aktif atau peneliti berperan aktif dalam memandu donatur untuk membangun sarana peribadatan dengan menggunakan konsep local genius. Alhasil bangunan Masjid Siaga sumbangan dari Masjid Nusantara terbangun dengan baik dengan tetap menjaga kearifan lokal setempat. Dalam situasi darurat peneliti hanya mampu mengarahkan konsep dan rancang bangun menasah di desa Uning Mas dengan konsep rumah adat Umah Pitu Ruang rumah adat Gayo. Keinginan nya adalah membangun masjid sementara dengan pola bangunan kubah piramid, akan tetapi dengan waktu yang terbatas, maka tim Masjid Nusantara memilih rancang bangun metode Umah Pitu Ruang sebagai prototype terdekat pembangunan Masjid Siaga di desa Uning Mas kabupaten Bener Meriah.

Kedua yang sedang peneliti amati ialah pada bagian kuliner khas Gayo. Dalam momentum berdekantan dengan bulan suci ramadhan, ada kebiasaan tradisi megang atau Munggah di masyarakat Aceh. Tradisi menyantap makanan berbahan daging sudah menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat Aceh. Dalam situasi bencana ini, peneliti berkesempatan langsung mencicipi beberapa makanan khas Gayo seperti gutet (talas kukus di ikat dengan daun).

Dari pengalaman mencicipi makan khas Gayo tersebut, peneliti menarik kesimpulan bahwa dalam situasi bencana ini menjadi atensi serius semua masyarakat kebudayaan untuk ambil bagian menjaga merecovery kehidupan masyarakat terdampak bencana untuk tetap menjaga kebudayaan nya. Harapan peneliti ialah dalam momentum peringatan menyambut bulan suci ramadhan ini setidak nya semua jenis masakan daging khas Gayo harus menjadi prioritas utama agar pemulihan bencana dapat membangun semua sektor terutama kebudayaan masyarakat setempat.

Di beberapa wilayah bencana, peneliti amati bahwa saat ini para donatur telah melaksanakan program masak besar dengan bahan baku daging sapi/kerbau. Menu tersebut setidaknya menjadi perhatian penting bagi para relawan lokal untuk memandu para donatur mensukseskan donasi nya dengan tidak meninggalkan budaya daerah terkena bencana.

Salah satu masakan khas Gayo ialah Makanan daging khas Gayo, Aceh, didominasi olahan daging kerbau atau sapi dengan bumbu rempah tradisional yang khas, sering disajikan saat hari raya atau acara adat. Menu utamanya meliputi Cecah Reraya (kulit/daging rebus dengan bumbu khas), Ayam Sengeral (ayam kampung tanpa santan), dan Masam Jing (asam pedas).

Berikut adalah detail makanan daging khas Gayo:
Cecah Reraya / Cecah Kekulit: Masakan berbahan kulit kerbau/sapi yang dipanggang, lalu direbus bersama daging, hati, dan jantung. Kulit diserut halus dan dicampur dengan bumbu kelapa gonseng, merica, serta perasan getah pohon uwing atau tingkem yang memberikan rasa kelat khas, sering dihidangkan saat Lebaran.

Ayam Sengeral: Ayam kampung yang dimasak dengan bumbu rempah (kemiri, serai, daun jeruk) dan kelapa sangrai tanpa santan, menghasilkan kuah kental yang gurih.

Cecah Menet: Olahan daging (sapi/kerbau) yang dicincang dan dicampur dengan bumbu rempah serta kulit batang kayu tertentu (menet, jambu air) yang diperas, berkhasiat membuang angin.
Masam Jing (Daging/Ikan): Asam pedas khas Gayo yang berwarna kuning, menggunakan bumbu rempah dapur yang kental.

Kuliner Gayo terkenal dengan penggunaan kelapa gonseng dan teknik masak tradisional yang membuat rasanya unik dan khas.
(Sumber Wikipedia)

Harapan peneliti dalam kebencanaan ini pengawasan semua aseet kebudayaan daerah setempat perlu mendapat perhatian serius dari semua pemangku pengawasan recovery bencana, karena kalau tidak kita sikapi maka pengalaman buruk kehilangan aset kebudayaan itu akan terulang untuk yang kedua kali nya setelah bencana alam tsunami Aceh tahun 2004.

Tulisan.: Dr. Rasyidin, S.Sn., M.Sn
Peneliti merupakan dosen seni pertunjukan di prodi seni Teater ISBI Aceh, dan Wakil Ketua Dewan Kesenian Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *