Pekanbaru, (BA) – Program Kemah Tari Riau 2026 resmi menjadi ruang pertemuan bagi pelaku tari muda Indonesia untuk memperkuat kapasitas kepenarian, memperluas wawasan kebudayaan, serta membangun jejaring seni pertunjukan lintas daerah.
Sebanyak 10 pelaku tari muda Indonesia terpilih mengikuti program residensi tari selama sepuluh hari. Kegiatan ini dirancang untuk memberi pengalaman langsung kepada peserta dalam membaca keberagaman budaya Riau, mulai dari kawasan pesisir, pedalaman, hingga praktik olah tubuh di ruang perkotaan.
Mengusung tema “Aksi Reorientasi: Tafsir Tubuh, Pesisir dan Pedalaman”, Kemah Tari Riau 2026 mengajak peserta untuk melihat kembali posisi tubuh, identitas, ruang, dan lingkungan sebagai bagian penting dalam proses penciptaan karya tari. Tema ini menekankan bahwa tubuh penari bukan hanya alat gerak, tetapi juga ruang pengetahuan yang menyimpan pengalaman sosial, budaya, dan sejarah.

Rangkaian Kemah Tari Riau 2026 berlangsung pada 31 Mei hingga 10 Juni 2026. Peserta tiba pada 31 Mei 2026, mengikuti residensi pada 1–9 Juni 2026, kemudian menampilkan hasil proses kreatif mereka dalam presentasi publik pada 9 Juni 2026. Kepulangan peserta dijadwalkan pada 10 Juni 2026.
Selama program, peserta akan melakukan eksplorasi di beberapa lokasi penting di Riau, yakni Kecamatan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Kampung Zapin, Desa Meskom, Kabupaten Bengkalis, serta Kota Pekanbaru. Lokasi-lokasi tersebut dipilih untuk mempertemukan peserta dengan pengetahuan budaya pedalaman, kebudayaan pesisir, serta praktik seni tari dalam ekosistem urban.
Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan teknik tari, tetapi juga mendorong peserta untuk memahami tari sebagai refleksi dari pluralitas budaya masyarakat. Melalui diskusi, latihan intensif, kelas peningkatan kapasitas, serta pertemuan langsung dengan maestro tari, sastrawan, dan tokoh masyarakat, peserta diharapkan mampu mengembangkan kepekaan artistik dan memperkaya cara pandang dalam berkarya.
Kemah Tari Riau 2026 merupakan bagian dari upaya pemetaan pelaku tari muda Indonesia, khususnya dari wilayah Sumatra, tanpa menutup kesempatan bagi pelaku tari potensial dari daerah lain. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan visibilitas seniman tari muda, memperluas akses berkesenian, serta mendorong lahirnya produksi pengetahuan tari Indonesia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Wan Dance Studio bersama Forum Tari Riau, berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya Kementerian Kebudayaan RI melalui MTN Lab. Pelaksanaan program juga mendapat pendampingan dari Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp.
Wan Dance Studio sendiri merupakan komunitas tari yang berdiri sejak 17 Februari 2014. Komunitas ini dikenal menggunakan metode riset dalam proses penciptaan karya, dengan perhatian kuat pada konten lokal sebagai titik berangkat artistik. Memasuki tahun ke-13, Wan Dance Studio turut menginisiasi Forum Tari Riau sebagai wadah bersama komunitas seni tari di Provinsi Riau.
Dalam pelaksanaannya, Kemah Tari Riau 2026 menghadirkan Hartati, koreografer Indonesia yang dikenal menjembatani tradisi Minangkabau dengan eksplorasi tari kontemporer, sebagai mentor. Sementara itu, Keni K. Soeriaatmadja, seniman interdisipliner dan produser seni pertunjukan berbasis di Bandung, turut hadir sebagai fasilitator.

Peserta juga akan mendapatkan pengetahuan langsung dari sejumlah narasumber lokal, di antaranya tokoh Zapin Meskom, tokoh sastra lisan pesisir, tokoh Joged Sonde, tokoh masyarakat Bengkalis, serta perwakilan masyarakat adat Suku Talang Mamak dari Kabupaten Indragiri Hulu.
Melalui Kemah Tari Riau 2026, para peserta diharapkan tidak hanya pulang dengan peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga membawa pengalaman tubuh, pengetahuan budaya, dan perspektif baru dalam membaca hubungan antara seni, masyarakat, dan lingkungan. Program ini menjadi ruang penting bagi generasi muda tari Indonesia untuk terus berproses, berjejaring, dan menciptakan karya yang lebih kritis, kontekstual, serta berakar pada keberagaman budaya Indonesia. (DD)













