Hari Peringatan HIV/AIDS Perempuan Dan Anak Perempuan, Wanita Indonesia Tembus 40% dari 20.000 Kasus Per Tahun

Life Style195 Dilihat

Bilikanalogi.web.id – Hari HIV/AIDS untuk perempuan dan anak perempuan dirayakan setiap tahun pada tanggal 10 Maret. Tujuan utama dari hari peringatan ini adalah untuk menarik perhatian para wanita dan anak perempuan terhadap HIV dan AIDS, penyakit yang sangat berbahaya bagi tubuh.

Dikutip dari laman isotekindo.co.id, Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. Sistem kekebalan tubuh memiliki banyak jenis sel darah putih yang melawan infeksi. HIV menyerang sel CD4 dan berkembang biak di sana.

Sel CD4 adalah jenis sel darah putih yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Tugas utama sel CD4 adalah melawan infeksi yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme berbahaya (bakteri, virus, parasit, jamur, dan lain-lain). Pada orang yang sehat, jumlah sel CD4 dalam kisaran normal adalah antara 500 dan 1.500, tetapi infeksi HIV terjadi ketika jumlah virus (viral load) mencapai 100.000 kopi atau lebih per 1 ml sampel darah.

Ketika virus menyerang sel CD4, virus akan membunuh sel tersebut dan virus baru akan terus berkembang biak. Tubuh merespons dengan membuat lebih banyak sel CD4, tetapi setelah beberapa saat, tubuh tidak dapat mengimbangi penggandaan virus. Hal ini melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang dan membuat mereka rentan terhadap penyakit, bahkan infeksi kuman biasa. Infeksi berlangsung lebih lama, lebih parah dan dapat terjadi lebih sering.

Tahap paling lanjut dari infeksi HIV adalah acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), yang dapat berkembang selama bertahun-tahun jika tidak diobati, tergantung pada individu. AIDS ditandai dengan berkembangnya kanker tertentu, infeksi atau tanda-tanda klinis yang parah dan berkepanjangan.

baca juga Tingkatkan Infrastruktur Masyarakat, Pemko Pekanbaru Bergegas Dalam Perbaikan Jalan Rusak

GEJALA INFEKSI HIV

Sekitar sebulan setelah tertular HIV, seseorang mungkin akan merasakan flu. Ini adalah tahap pertama, yang dikenal sebagai infeksi HIV primer atau akut. Gejalanya meliputi

  • Demam
  • Ruam kulit
  • Sakit tenggorokan
  • Kelelahan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening

Tahap berikutnya disebut latensi klinis atau infeksi kronis. Tahap ini mungkin tidak menunjukkan gejala atau hanya menunjukkan gejala ringan selama 10 tahun atau lebih. Gejala HIV/AIDS biasanya tidak langsung muncul ketika seseorang baru terinfeksi HIV. Seringkali, HIV baru terdeteksi pada stadium lanjut.

Tanpa pengobatan, HIV terus berkembang biak dan seseorang mencapai tahap ketiga, yaitu AIDS. Seseorang dengan HIV didiagnosis dengan AIDS jika ia memiliki kurang dari 200 sel CD4 per milimeter kubik darah.

TAHAPAN INFEKSI

Infeksi HIV sampai timbulnya AIDS dibagi menjadi 3 tahap:

Tahap pertama: infeksi HIV akut
Pada tahap pertama ini, orang dengan HIV mengalami gejala mirip flu seperti

  • sariawan
  • sakit kepala
  • kelelahan
  • sakit tenggorokan
  • Nyeri pada otot
  • Ruam
  • Pembengkakan kelenjar getah bening

Gejala dan tanda HIV/AIDS ini dapat terjadi karena sistem kekebalan tubuh berusaha melawan virus. Gejala-gejala ini dapat berlangsung selama 1 hingga 2 minggu atau bahkan lebih lama.

Fase kedua: Fase laten HIV

Pada fase ini, orang dengan HIV/AIDS tidak menunjukkan tanda dan gejala yang khas dan bahkan mungkin merasa sehat. Meskipun tidak ada tanda-tanda HIV/AIDS yang terlihat, pasien masih dapat menularkan penyakit ini kepada orang lain. Pada akhir fase kedua, terjadi penurunan drastis dalam jumlah sel darah putih, yang mengakibatkan gejala yang lebih parah.

AIDS

AIDS adalah fase infeksi HIV yang paling serius. Pada fase ini, tubuh hampir kehilangan kemampuannya untuk melawan penyakit. Ini karena jumlah sel darah putih jauh di bawah normal. Tanda-tanda HIV AIDS pada tahap ini termasuk penurunan berat badan secara drastis, sering demam, kelelahan dan pembengkakan kelenjar getah bening. Karena sistem kekebalan tubuh sangat lemah selama tahap AIDS, penderita HIV/AIDS sangat rentan terhadap infeksi dan beberapa jenis kanker. Penyakit yang biasanya terjadi pada orang dengan AIDS meliputi

  • Infeksi jamur di mulut dan tenggorokan
  • Pneumonia
  • Toksoplasmosis
  • meningitis
  • Tuberkulosis
  • Kanker, seperti limfoma

PENCEGAHAN HIV

Pencegahan dan pengobatan dini infeksi HIV adalah kunci untuk mencegah penyakit ini berkembang menjadi AIDS yang berbahaya. Cara yang paling penting untuk mencegah infeksi HIV adalah dengan menghindari perilaku berisiko. Mencegah HIV/AIDS dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu

  • Menggunakan kondom dengan benar setiap kali berhubungan seksual
  • Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang lain, misalnya melalui luka atau hubungan seks.
  • Jika pasangan Anda positif HIV, bantu dia untuk mendapatkan dan tetap menjalani pengobatan.
  • Jangan berbagi jarum suntik atau peralatan lainnya.

KASUS DI INDONESIA TAHUN 2004

Dikutip dari laman komnasperempuan.go.id, disebutkan data dari UNAIDS menunjukkan bahwa jumlah wanita yang terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya. Saat ini terdapat 39,4 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS di seluruh dunia, dan diperkirakan separuhnya adalah perempuan. Di Asia, 8,2 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, 2,3 juta di antaranya adalah perempuan. Di Indonesia sendiri, diperkirakan 21% dari 5.701 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan terjadi pada perempuan.

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo juga melaporkan bahwa hingga Desember 2004, jumlah kasus HIV/AIDS yang ditangani Pokdisus AIDS FKUI/RSCM mencapai 635 kasus. Sebanyak 82 orang (12,9%) di antaranya adalah perempuan berusia 15-53 tahun, dan 76,8% di antaranya berstatus menikah.

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang aktif secara seksual dan sudah menikah adalah kelompok yang paling rentan. Pendekatan ABC (abstinence, fidelity or condoms) atau yang dikenal dengan kesetiaan pada pasangan dan penggunaan kondom tampaknya tidak berlaku di sini. Alasan perempuan terinfeksi sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit ini, melainkan karena perempuan tidak memiliki kekuatan sosial dan ekonomi serta daya tawar untuk melindungi diri mereka sendiri. Salah satu contohnya adalah kasus yang sering terjadi pada perempuan Papua. Mereka tertular dari suami yang mengunjungi PSK dan kemudian menularkan infeksi tersebut kepada anak-anak mereka.

Perempuan muda seringkali tidak mampu menolak permintaan pacar mereka untuk melakukan hubungan seks sebagai tanda cinta, dan mereka seringkali tidak memiliki kekuatan untuk menegosiasikan penggunaan kondom. Oleh karena itu, tidak hanya perlu meningkatkan pemahaman tentang kesetaraan gender dalam masyarakat, tetapi juga untuk mendukung ketahanan perempuan dalam melawan ancaman HIV/AIDS.

Terkait dengan HIV/AIDS, tim JJP menemukan beberapa masalah berdasarkan hasil penelitian lapangan, antara lain: Ibu-ibu yang terinfeksi HIV/AIDS yang tertular dari suaminya dan kemudian menularkan penyakit tersebut kepada janin yang dikandungnya, pekerja seks yang tidak bisa menolak tamu laki-laki yang tidak mau menggunakan kondom. Terakhir, perempuan yang pasrah dengan risiko tertular HIV/AIDS karena tidak memiliki biaya, perempuan yang tertular HIV/AIDS saat melakukan perawatan kesehatan reproduksi, remaja putri yang tidak dapat menolak ajakan pacarnya untuk melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan dalih sebagai bukti cinta, perempuan yang mendapat stigma dan perempuan yang kehilangan haknya untuk bereproduksi dan mengasuh anak karena HIV/AIDS.

Kini saatnya masyarakat peduli terhadap nasib perempuan, baik dewasa maupun anak-anak, dalam konteks penyebaran HIV/AIDS dan melindungi hak-hak mereka untuk terbebas dari virus mematikan ini. Sebelum Indonesia menjadi seperti Afrika sub-Sahara, dimana tiga perempat dari populasi perempuan hidup dengan HIV/AIDS. Dan perempuan yang positif sendiri diharapkan dapat diberdayakan melalui pemahaman yang lebih baik mengenai aspek gender dalam isu HIV/AIDS dan membangun jaringan yang berguna bagi kebutuhan mereka (misalnya dengan membangun hubungan dengan organisasi perempuan).

Mereka juga perlu memahami bentuk-bentuk diskriminasi dan kekerasan berbasis gender dan bagaimana mereka dapat mengatasinya sendiri atau menjadi penyintas yang dapat menyebarkan kesadaran ini kepada perempuan lain yang positif, memberdayakan satu sama lain, dan memupuk rasa persaudaraan. Perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS sangat terpengaruh oleh diskriminasi gender. Selain kasus-kasus di mana perempuan terinfeksi HIV/AIDS karena pasangannya lebih dominan, perempuan dan anak-anaklah yang akhirnya menjadi korban, menanggung stigma seumur hidup, terutama dari orang-orang di sekitarnya, kehilangan masa depan, dan kehilangan hak untuk bereproduksi.

Selama melakukan penelitian di lapangan, tim JJP menemukan beberapa masalah: Ibu yang tertular HIV/AIDS dari suaminya dan kemudian menularkan penyakit tersebut kepada janin yang dikandungnya, pekerja seks yang tidak bisa menolak tamu laki-laki yang tidak mau menggunakan kondom. Banyak topik lain yang dibahas dalam edisi ini yang dapat menjadi pelajaran berharga.

Hari HIV/AIDS untuk perempuan dan anak perempuan
sumber : sehatnegeriku.kemkes.go.id

KASUS DI INDONESIA TAHUN 2023

Dilansir dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, Jumlah kasus human immunodeficiency virus (HIV) di Indonesia akan meningkat pada tahun 2023. Juru bicara Kementerian Kesehatan, Dr Muhammad Syahril, mengatakan bahwa penularan kasus ini terutama melalui ibu rumah tangga.

Menurut Kementerian Kesehatan, 35% ibu rumah tangga terinfeksi HIV. Angka ini lebih tinggi dari kasus HIV pada kelompok lain seperti pasangan pekerja seks dan LSL (hubungan seks antar laki-laki).

“Kegiatan ini menyumbang sekitar 30% dari penularan HIV dari laki-laki ke perempuan. Akibatnya, kasus baru HIV di kalangan ibu rumah tangga meningkat 5.100 kasus setiap tahunnya,” kata Dr Syahril.

Dia mengatakan alasan tingginya penularan HIV di kalangan ibu rumah tangga adalah rendahnya pengetahuan tentang pencegahan dan akibat dari penyakit ini serta fakta bahwa mereka memiliki pasangan dengan perilaku seksual yang berisiko.

Ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV memiliki risiko tinggi untuk menularkan virus tersebut kepada anak-anak mereka. Penularan dapat terjadi di dalam rahim, selama persalinan atau selama menyusui.

Secara umum, penularan HIV dari ibu ke anak mencapai 20-45% dari semua sumber penularan HIV lainnya, misalnya melalui hubungan seks tanpa kondom, jarum suntik, dan transfusi darah.

Akibatnya, 45% bayi yang lahir dari ibu yang HIV-positif lahir dengan HIV. Dan mereka akan menjadi HIV-positif selama sisa hidup mereka.

“Saat ini terdapat 14.150 kasus HIV pada anak usia 1-14 tahun. Jumlah ini meningkat sekitar 700-1000 anak dengan HIV setiap tahunnya,” jelas Dr Syahril.

Mengenai proses deteksi, kementerian kesehatan mencatat bahwa hanya 55 persen ibu hamil yang dites HIV karena sebagian besar dari mereka tidak mendapat persetujuan dari suami untuk dites. Dari jumlah tersebut, 7.153 di antaranya seropositif dan 76% belum mendapatkan pengobatan ARV, yang meningkatkan risiko penularan ke bayi.

Mengenai sumber penularan, Dr Syahril memperkirakan penularan HIV akan terus berlanjut. Hal ini dikarenakan dari 526.841 orang yang hidup dengan HIV, baru sekitar 429.215 yang terdeteksi atau mengetahui status HIV-nya. Artinya, masih ada 100.000 ODHA yang belum terdeteksi dan berpotensi menularkan HIV di tengah masyarakat.

Dr Syahril menjelaskan bahwa skrining setiap orang kini menjadi prioritas pemerintah untuk mencapai eradikasi (termasuk memutus penularan HIV secara vertikal dari ibu ke anak). Setiap ibu yang 100% terinfeksi harus diobati.

Upaya ini diharapkan dapat menekan jumlah dan tanggal bayi yang terinfeksi HIV sejak lahir, menurunkan angka kesakitan dan kematian, dan yang terpenting adalah mengurangi beban negara dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat.

Selain HIV, peningkatan penyakit sifilis atau raja singa juga dilaporkan dalam 5 tahun terakhir (2016-2022). Dari 12 ribu kasus menjadi hampir 21 ribu kasus dengan peningkatan rata-rata 17.000 hingga 20.000 kasus per tahun.

Dr Syahril menunjukkan bahwa tingkat pengobatan pasien sifilis masih rendah. Wanita hamil dengan sifilis yang diobati hanya sekitar 40 persen dari pasien. Sisanya, 60% tidak diobati dan dapat menularkan penyakit ini dan menyebabkan kecacatan pada anak mereka.

“Kurangnya pengobatan disebabkan oleh stigma dan rasa malu. Setiap tahun, hanya 25% dari lima juta wanita hamil yang menjalani pemeriksaan sifilis. Dari 1,2 juta ibu hamil, 5.590 di antaranya dinyatakan positif menderita sifilis,” ujar Dr Syahril.

Dr Syahril menyimpulkan dengan mendesak pasangan yang sudah menikah untuk setia pada pasangannya dan menghindari hubungan seks yang berisiko. Bagi yang belum menikah, sebaiknya memperhatikan keamanan dan menghindari hal-hal yang dapat berisiko bagi kesehatan dan perkembangan mental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *