Pekanbaru, (BA) – Sekolah Bina Mitra Wahana kembali menunjukkan komitmennya dalam pendidikan berbasis karakter dan budaya lokal melalui kegiatan kokurikuler bertema kearifan lokal budaya Melayu Riau dengan judul “Bajambau” (makan bersama) yang dilaksanakan pada Jum’at, 13 Februari 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler semester dua yang dirancang sebagai pembelajaran kontekstual, sekaligus menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan.

Kepala Sekolah Bina Mitra Wahana, Febrina Olifia, S.Pd, Gr, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran identitas budaya peserta didik.
“Anak-anak harus tahu budayanya sendiri. Mereka harus menyadari bahwa mereka adalah orang Melayu, orang Riau. Orang Riau, orang Melayu harus tahu dengan adat istiadatnya. Karena mereka lahir di Pekanbaru, Riau, mereka otomatis adalah putra-putri daerah. Jadi mereka harus tahu bagaimana budaya lokal dan kearifan lokal itu.”

Rangkaian kegiatan bejambau dilaksanakan secara menyeluruh, mulai dari persiapan bahan masakan, memasak, menghidang, hingga makan bersama sebagai satu kesatuan ritual budaya.
“Ritual bajambau ini dimulai dari persiapan memasak bahan-bahannya, memasak, menghidang, dan makan bersama. Ini bagian dari kokurikuler semester dua yang mengambil tema kearifan lokal,” jelas Febrina Olifia, S.Pd, Gr.
Pemilihan waktu pelaksanaan juga disesuaikan dengan momentum Ramadan.

“Pelaksanaannya tidak kebetulan, karena ini menyambut bulan Ramadan. Maka kearifan lokal dalam kokurikuler ini kita laksanakan di akhir minggu ini, karena minggu depan sudah masuk bulan puasa,” katanya.
Antusiasme peserta didik terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung.
“Anak-anak sangat antusias sekali ketika mereka mempersiapkan, memotong, memasak, dan mempersiapkan hidangan. Mereka sangat antusias,” ujar Febrina Olifia, S.Pd, Gr.

Melalui kegiatan ini, sekolah menanamkan nilai gotong royong, keberagaman, kebhinekaan, dan silaturahmi sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
“Di samping kearifan lokal, di sana ditanamkan gotong royong. Gotong royong itu juga bagian dari delapan profil lulusan. Kemudian ada keberagaman. Walaupun mereka berasal dari berbagai suku, ketika mereka belajar kearifan lokal budaya kotanya sendiri, di situ sudah ada kebhinekaan. Pesan dari kokurikuler ini adalah silaturahmi satu dengan yang lain.”

Terkait pelaksanaan pembelajaran Ramadan, sekolah tetap berpegang pada regulasi resmi pemerintah.
“Jumlah peserta didik yang melaksanakan puasa hanya sekitar 20 persen. Namun demikian, kami tetap merujuk kepada sistem pembelajaran di bulan puasa yang sudah ditetapkan oleh Dinas setempat, Dinas Pendidikan Kota maupun Provinsi. Sekolah tetap memberlakukan pembelajaran sesuai surat edaran dari Dinas Kota dan Dinas Provinsi,” tegas Febrina Olifia, S.Pd, Gr.
Melalui kegiatan Bajambau, Sekolah Bina Mitra Wahana memperkuat citra sebagai sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga konsisten dalam pelestarian budaya lokal, pembinaan karakter, dan pendidikan berbasis nilai kearifan lokal.













